Selasa, 30 Juni 2015

Cara Memulihkan Nokia Lumia Yang Mati Total Dengan Nokia Software Recovery Tool

Anda memiliki Nokia Lumia yang brick atau tidak menyala sama sekali karena kegagalan sistem ? Anda dapat mencoba memperbaikinya sendiri dengan menggunakan Nokia Software Recovery Tool . Nokia Software Recovery Tool adalah aplikasi PC yang ditujukan untuk memperbaiki Nokia Lumia Anda yang brick atau tidak menyala sama sekali. Bagi Anda yang ingin menggunakan Nokia Software Recovery Tool, berikut ini langkah-langkah yang dapat Anda ikuti.


2. Jalankan Nokia Software Recovery Tool.

3. Hubungkan Lumia Anda ke PC dengan kabel USB.

4. Anda akan melihat versi Software yang dapat anda instal pada Nokia Lumia Anda. Lalu pilih “Install”.

5. Semua data pada Nokia Lumia Anda akan terhapus setelah proses reset ini. Namun Anda masih dapat mengakses telepon Anda, untuk membuat backup dengan masuk ke Setting > Backup . Klik “I Agree” dan “Next”.

6. Sekarang Anda akan mulai men-download software untuk Nokia Lumia Anda. Download software tersebut mungkin memakan waktu sekitar 15 menit, tergantung kecepatan internet Anda.

7. Setelah itu Nokia Software Recovery Tool akan mulai menginstal sistem operasi ke Nokia Lumia Anda. Jangan gunakan telepon atau melepaskan kabel selama proses instalasi berlangsung.


8. Tunggu sampai selesai, sampai Nokia Lumia Anda otomatis Reboot.

http://www.pctren.com/cara-memulihkan-nokia-lumia-yang-mati-total-dengan-nokia-software-recovery-tool/2291/

Selasa, 16 Juni 2015

POTLUCK DI RUMAH LUKI



       Heboh! Luki melongo melihat dapur pagi ini. Dia baru saja turun dari kamarnya di lantai dua, dan mau sarapan.
           “Goeden morgen, anak ganteng!” Mama melempar senyum sambil mengelap butiran keringat di dahinya. Celemeknya yang bergambar kincir angin tampak agak belepotan noda.
          “Mama tumben pagi-pagi masaknya serius gini..?” Luki bertanya keheranan.
    Dia melongokkan kepala ke arah panci besar di atas kompor. Hmm.. kuah kecoklatan agak kental nan harum. Tak salah lagi.. Coto Makassar! Lekker..
      Tapi aneh. Biasanya di pagi hari menu yang tersedia adalah roti tawar dengan selai stroberi atau keju kesukaan Luki. Plus sekotak susu Chocomell di atas meja makan. Kalaupun agak beda, paling nasi goreng atau mie goreng plus omelet. Tapi...  Coto Makassar..??
         “Eit, jangan dulu.. Itu belum matang!” seru Mama.
   Luki mengurungkan niat menyendok kuah coto. Tapi tetap saja tangannya mencomot satu potongan daging sapi yang sudah Mama sisihkan di mangkok.
         “Memangnya mau ada acara, ya Ma?”
         “Iya, nanti siang ada potluck di rumah kita.”
    Hmm, potluck? Apa itu..? Luki tak punya cukup banyak waktu untuk bertanya pada Mama. Bunyi “tit-tit” dari jam tangannya mengingatkan Luki untuk segera berangkat. Dia tak mau ketinggalan trem dan terlambat tiba di lapangan sepakbola. Semenjak tinggal di Belanda, mau tak mau Luki belajar untuk lebih tepat waktu, mengikuti budaya warga Belanda yang terkenal disiplin.

         Siangnya saat Luki kembali dari berlatih bola, rumahnya telah ramai. Banyak teman Mama dan Papa yang datang, bersama anak-anak mereka.
          Ada kakak beradik Rafael dan Caitlin, si kembar Harry dan Danny, si jangkung Ryan dan si pirang Wesley. Teman-temannya itu berwajah seperti bule. Ya, karena mama-mama mereka orang Indonesia yang menikah dengan orang Belanda.
         Ada pula Bagas, Sekar, Bastian, Laras dan Ferdi , teman-temannya yang Indonesia asli. Sama seperti Luki, mereka ikut orang tua yang sedang menuntut ilmu di negeri Belanda.
        Wah, ramai sekali rumah Luki siang itu. Seru! Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak.
       Dan wow.. mata Luki terbelalak melihat bermacam-macam makanan yang terhidang di atas meja makan. Ada Coto Makassar yang tadi pagi sudah sempat dicicipinya sedikit. Lalu ada  ayam rica-rica. Rendang. Teri balado. Tahu dan tempe bacem. Bakwan jagung. Serasa sedang pesta di Indonesia!
        Apakah Mama yang memasak semua itu..? pikir Luki setengah takjub.
      Ting tong!
        “Luki, tolong bukakan pintu!” seru Mama yang sedang sibuk menata piring dan gelas bersama Tante Mirda.
         Ternyata yang datang adalah Tante Dewi. Beliau tampak kerepotan. Satu tangannya menggendong si kecil Bobi yang tertidur, sementara tangan lainnya memegang sebuah termos besar.
       “Biar saya bantu bawakan, Tante,” tawar Luki sopan.
      “Oh, terimakasih Luki. Tolong langsung dibawa ke ruang makan saja ya.”


        Tante Dewi mengangsurkan termos itu kepada Luki. Ups, berat juga ternyata. Luki sampai harus mengangkatnya dengan kedua tangan.
        Di ruang makan, Mama menyongsongnya.
         “Wah, ini dia kolaknya sudah datang. Kolak Tante Dewi paling lezat seantero Belanda,” kata Mama riang.
         Oh, jadi termos tadi isinya kolak bikinan Tante Dewi, pikir Luki. Berarti, makanan yang lain... Ah ya! Aku tahu sekarang, Luki menggumam dalam hati.
         “Pepes ikan datang...” suara berat Oom Jo membuyarkan pikiran Luki. Kedua tangannya menyangga pinggan berisi pepes-pepes yang terbungkus daun pisang. Aroma gurihnya menguar ke seluruh ruangan.
        “Nah, berhubung semua sudah hadir, dan hari sudah semakin siang, mari kita mulai saja acaranya,” kata Papa.
        “Tentu saja. Kita semua sudah kelaparan,” timpal Oom Jo sambil tertawa. Beliau berdiri dan mengambil posisi antri paling depan di dekat meja makan.
        “Tolong panggil dulu teman-temanmu yang masih main di halaman belakang, Luki,” kata Mama.
         “Oke Ma,” jawab Luki sambil beringsut mendekati Mama.
        “Jadi bukan Mama yang memasak semua ini kan?” bisiknya di telinga Mama.
        “Tentu saja bukan. Mama hanya memasak cotonya saja,” jawab Mama sambil tertawa kecil.

       Luki manggut-manggut. Mencoba menghubungkan semuanya. Coto Makassar masakan Mama. Kolak dari Tante Dewi. Pepes ikan bawaan Oom Jo. Ayam rica-rica, rendang, teri balado, tahu dan tempe bacem, serta bakwan jagung juga pasti buah tangan tamu yang lain.

Resensi Film “V For Vendetta”




V ForVendetta adalah sebuah film yang diadopsi dari serial komik dengan judul yang sama karya Alan Moore dan David Lloyd yang terbit tahun 1982. Film ini berkisah tentang usaha V, seorang teroris yang mengenakan topeng Guy Fawkes dan jubah hitam, untuk meruntuhkan pemerintah Inggris yang dikuasai oleh rezim totaliter pimpinan High Chancellor Adam Sutler.
"People should not be afraid of their goverments. Goverments should be afraid of their people." - V

Fasisme v.s. Anarkisme. Barangkali itulah gambaran besar cerita V for Vendetta. Dikisahkan, pada suatu masa Inggris mengalami kekacauan karena teror virus yang menyerang tiga objek penting: sebuah sekolah, stasiun kereta bawah tanah dan fasilitas PDAM kota. Virus menyebar luas, tidak hanya di Inggris tapi hingga negara lain, menyebabkan kekacauan dan kematian jutaan orang.

Pada saat itulah, muncul politisi konservatif muda bernama Adam Sutler. Adam Sutler berasal dari Partai Nosefire yang merupakan partai fasis, religius dan anti perbedaan. Sebelum serangan virus, Partai Nosefire tidak memiliki kekuatan yang signifikan. Namun berkat kepemilikan saham di Perusahaan Farmasi yang berhasil menemukan antivirus, anggota partai ini menjadi super kaya. Secara mengejutkan Partai Nosefire memenangkan pemilu.



Setahun kemudian, pemerintahan Adam Sutler mengklaim telah berhasil menangkap ekstrimis relijius penyebar virus. Demi mencegah tragedi serupa, penangkapan besar-besaranpun dilakukan. Tidak hanya muslim, tapi semua yang berbeda: homoseksual, lesbian, politisi oposisi, dan populasi lain yang tidak diinginkan. Semua dengan alasan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Rakyat Inggris yang trauma dengan kekacauan, memilih untuk diam dan patuh. Sejak saat itu, Inggris dipimpin oleh rezim totaliter. Untuk melanggengkan kekuasaannya, Partai Nosefire memiliki pasukan intel yang kejam bernama Fingerman, menyebar propaganda melalui saluran British Television Networks (BTN), dan menyadap pembicaraan penduduk Inggris.

Hingga akhirnya munculah V, sosok misterius yang mengenakan jubah hitam dan topeng Guy Fawkes. Sosok V digambarkan sebagai sosok yang mahir bermain pedang, pandai meracik bom, cerdas, menggemari teater, seni, musik klasik dan buku-buku berkualitas. V juga sangat cerdas dalam memilih kata-kata dalam dialognya.

Dalam usahanya untuk mengakhiri kepatuhan total kepada Nosefire, pada tanggal 5 November malam V meledakkan Gedung the Old Bailey. Pemerintahan Adam Sutler segera menayangkan berita bohong untuk menutupi insiden tersebut melalui siaran BTN. Namun akhirnya usaha ini sia-sia karena V justru berhasil membajak BTN dan menyiarkan siaran provokasinya.

"I know you were afraid. Who wouldn't be? War, terror, disease. There were a myriad of problems which conspired to corrupt your reason and rob you of your common sense. Fear got the best of you, and in your panic you turned to the now high chancellor, Adam Sutler. He promised you order, he promised you peace, and all he demanded in return was your silent, obedient consent." - V

Pada kesempatan itu, V juga mengumumkan rencananya untuk meledakkan Gedung Parlemen pada tanggal 5 November di tahun depan.

Menanggapi siaran provokasi V, pemerintah Inggris mengeluarkan propaganda untuk membantah ajakan V. Bahkan BTN memberitakan bahwa V telah tewas di tangan polisi Inggris saat polisi menyerbu ke kantor BTN. Namun rakyat Inggris tidak percaya begitu saja. Mereka mulai membicarakan V secara sembunyi-sembunyi.

Cerita dibuat menarik dengan keberadaan Evey Hammond, seorang karyawan di BTN yang pernah diselamatkan oleh V ketika akan diperkosa oleh anggota Fingerman. Ia terpaksa bergabung dengan V setelah secara refleks ia menyerang anggota polisi yang tengah memojokkan V saat pembajakan BTN.

Pada awalnya, Evey Hammond sempat ketakutan dan meragukan keputusannya untuk mendukung V, namun berkat upaya "perkaderan" V, Evey Hammond berubah menjadi pengikut loyalnya. Sosok Evey Hammond sepertinya sengaja diciptakan untuk mewakili gambaran masyarakat awam di tengah proses revolusi. Setiap orang pada awalnya takut kesewenang-wenangan penguasa. Tapi jika terus menerus di tekan, pada akhirnya masyarakat akan menemukan keberanian untuk melawan.

Sementara itu, V melakukan serangkaian pembunuhan atas pemimpin-pemimpin penting Partai Nosefire. Di sisi lain, efek siaran propaganda yang dilakukan V di BTN pada tanggal  5 November makin meluas. Tindakan melawan pemerintah meningkat drastis. Baju dan topeng yang dikenakan V juga beredar di kalangan penduduk. Hingga akhirnya, setahun setelah siaran provokasinya di BTN, pada tanggal yang sama V berhasil meledakkan Gedung Parlemen dan mengakhiri pemerintahan Adam Sutler.

"The building is a symbol, as is the act of destroying it.Symbols are given power by the people.Alone a symbol is meaningless but with enough people blowing up a building can change the world." - V

Film ini adalah film serius, provikatif dan barangkali susah difahami kebanyakan orang. Saya pernah sekali mencoba memutar film ini di kelas bahasa Inggris semasa saya masih menjadi Instruktur Bahasa Inggris di SAC Pusat Pelatihan Bahasa UMY. Pada menit ke 15, murid-murid saya protes dan memaksa saya untuk mengganti dengan film lain.

Namun film ini amat menarik jika anda menyukai hal-hal yang berbau politik dan konspirasi. Alur cerita yang dibangun sangat mirip dengan cerita kemunculan dan keruntuhan diktator-diktator di seluruh dunia. Bahkan film ini juga menginspirasi para aktivis di dunia nyata. Topeng Guy Fawkes seperti yang dipakai V muncul dan menjadi simbol di berbagai aksi protes melawan pemerintah di seluruh dunia. (Baca: Guy Fawkes mask inspires Occupy protests around the world)

V for Vendetta lebih dari film aksi super hero. Bagi saya V for Vendetta adalah sebuah ide. Pengarang aslinya, Alan Moore, sepertinya memang sengaja menulis kisah fiksi ini untuk menyampaikan ide kebenaran, seperti yang diucapkan Evey Hammond dalam salah satu dialog film:

"... artists use lies to tell the truth, while politicians use them to cover the truth up." - Evey Hammond





http://hudaalbanna.blogspot.com/2012/05/v-for-vendetta-film-tentang-pertarungan.html